Walhi Sumut: Selamatkan Lingkungan Danau Toba

Medan, Jubi – Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Sumatera Utara minta kepada pemerintah agar menyelamatkan lingkungan di sekitar kawasan Danau Toba yang sudah rusak dan sangat memprihatinkan.

“Pemerintah Kabupaten yang berada di kawasan Danau Toba segera turun tangan menjaga kelestarian lingkungan daerah objek wisata tersebut,” kata Direktur Eksekutif Walhi Sumut, Kusnadi di Medan, Minggu (21/8/2016).

Kerusakan kawasan Danau Toba itu, menurut dia, tidak hanya disebabkan banyaknya keramba jaring apung (KJA) milik masyarakat, tetapi juga disebabkan korporasi budi daya ikan dan perusahaan industri pengolahan bubur kertas di daerah tersebut.

“Hal ini menyebabkan terjadinya pencemaran di perairan Danau Toba, dan pemerintah harus bersikap tegas dalam menangani permasalahan lingkungan tersebut,” ujar Kusnadi.

Ia mengatakan, kerusakan lingkungan Danau Toba itu, tidak boleh dibiarkan berlarut-larut dan harus dicarikan solusi yang terbaik, sehingga tidak menimbulkan kerugian bagi Pemerintah Kabupaten setempat.

Kusnadi menambahkan, program Pemerintah Pusat yang akan menjadikan kawasan Danau Toba menjadi “Monaco Asia” jangan sampai gagal hanya karena terjadinya pencemaran lingkungan di daerah itu.

“Kawasan Danau Toba yang menjadi kunjungan wisatawan dunia dan Asia, harus berjalan dengan sukses, lancar, serta tidak ada kendala,” kata penggiat lingkungan itu.

Sebelumnya, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya mengakui kerusakan lingkungan di sekitar Danau Toba sudah memprihatinkan sehingga kepala daerah di kawasan itu diminta meningkatkan pengawasan.

“Kerusakan yang memprihatinkan itu ditandai dengan adanya antara lain 5.600 keramba jaring apung yang menghasilkan limbah organik tinggi,” ujarnya di Tapanuli Utara (Taput) Sumut, Jumat lalu.

Dia mengatakan itu pada acara penanaman 7.700 pohon di area seluas 15 hektare di Hutan Ginjang Kecamatan Muara, Taput.

Lokasi penanaman itu merupakan kawasan hutan lindung dari bagian wilayah kesatuan pengelolaan hutan lindung unit XVIII di Sumut.

Selain keramba jaring apung (KJA), ada pencemaran air dari kegiatan pertanian, peternakan dan rumah tangga.

Kerusakan juga ditambah adanya lahan kritis seluas 157.000 hektare atau 21 persen dari luas daerah tangkapan air Danau Toba.(*)

Post author